April 10, 2009

MODIFICATION

LOW RIDER EXTREME FROM SUZUKI SKYWAVE


Umumnya, modifikasi low rider didominasai dua merek, yakni, kalau enggak Yamaha Mio, ya Honda Vario. Nih, sekarang ada Suzuki Skywave 125 buatan 2008 yang digarap rumah modifikasi X-16 Motor Bike. Karya rumah modifikasi di bilangan Kemayoran, Jakarta Pusat, itu punya keistimewaan tersendiri di beberapa bagian.


Paling nyata pada ban. Ring asli 16 inci diubah jadi 17 inci yang dibalut ban ukuran 200/50 profil tipis. “Tadinya hanya mau pakai ring 16 seperti aslinya. Namun, agak susah di ban, maka diakali pakai ring 17,” ungkap Johanes Hanafi, sang modifikator. Keuntungan yang dipetik, ketinggian motor tidak berubah banyak.

Namun, penggarapannya tidak segampang membalikkan telapak tangan. Dengan lebar telapak ban belakang 8 inci membuat posisi mesin harus bergeser sejauh 6 mm. Jarak itu didapat setelah diukur center antara roda, mesin, dan bodi motor bagian depan.

Mundurnya dapur pacu tentu diikuti dengan sumbu roda. “Caranya, pakai undur-undur 20 cm, tapi harus benar-benar kuat karena desain Skywave beda dengan Mio atau Vario,” papar Johanes. Untuk memenuhi tuntutan itu, undur-undur dirancang model kotak pakai pelat 2 mm persis sama dengan mobil. Untuk penempatan posisi disc brake belakang dan baut roda dikasih adaptor. “Tidak terlalu tebal, hanya 8 mm,” ungkap Johanes.

Untuk velg belakang, Johanes memakai punya variasi BMW sekalian dengan baut rodanya (5 buah) yang tidak tampak karena tertutup dop roda. Beda ketika menggarap roda depan yang banyak ubahannya. Paling jelas dalam desain palang yang sama antara kiri dan kanan. “Menghabiskan dua velg dan yang diambil palangnya,” tegas pria yang bangga dengan roda ekstrem ini.

Hanya itu keistimewaan karya Johanes? Masih ada lagi. Lirik knalpot, juga pakai asli buat mobil. Pertimbangannya, untuk mengimbangi roda belakang yang lebar itu.

Kemudian intip posisi shockbreaker belakang. Tidak rebah seperti kebanyakan aliran low rider, pada Skywave ini justru tegak dan monoshock. Pilihan Johanes pada YSS untuk Satria F-150. “Itu lebih pas karena ukuran atau panjangnya pas dengan kondisi Skywave sekarang,” urai Johanes.

Pada setang terpasang spidometer imut dan varian terbaru dari merek Koso. Meski bentuknya kecil, tetapi indikatornya lengkap. Ada penunjuk bensin, putaran mesin, odometer, dan lainnya.



HONDA VARIO MODEL KNOCK DOWN AND UNIC



Tampilan Honda Vario 2006 dari Sumedang, Jawa Barat, ini bisa dibilang karya terunik atau modifikasi yang ekstrem. Keunikannya, Deden Darmawan, sang modifikator yang membentuk skubek menjadi low rider, justru ke luar dari pakem aliran tersebut. Kemudian, sistem rem belakang juga tak lazim, termasuk penggerak roda memakai komponen mobil.


Umumnya, modifikasi low rider memundurkan roda belakang dengan menambah undur-undur plus menggeser mesin. Namun, Deden dari SS Custom merenggangkan ban dari standarnya lumayan "jauh" sampai 50 cm dengan dibuatkan lengan ayun (swing arm) baru. "Mundur dengan posisi mesin masih di tempatnya," ujar Deden.

Menurut Deden, konsep modifikasinya menganut sistem knock down alias bongkar-pasang. Jadi, katanya, kalau mau kembali ke standar tinggal melepas lengan ayun yang dibuatnya dari pipa kotak ukuran 4 x 6 cm yang tebalnya 3 mm.

Lantaran mundurnya cukup jauh, sistem penggerak roda belakang dibantu dengan gir dan rantai. Adapun sistem CVT tetap dipertahankan dan dijamin Deden tidak rusak sama sekali. Sementara itu, kombinasi gir depan dan belakang dipilih yang 1:1. "Cara kerja gir depan tetap berhubungan dengan as roda asli dan disambungkan dengan adaptor," jelas ayah dua anak ini.

Adaptornya dibuat dari besi yang mempunyai ketebalan 16 cm. Cukup tebal memang, tujuannya untuk mengejar posisi center antara depan dan belakang. Kemudian, kedua gir dihubungkan dengan rantai untuk menggerakkan roda belakang. Di sini, Deden memilih rantai keteng mobil dari Mitsubishi L300. Rantainya dobel sehingga (lebih) kuat dari (rantai) standar motor," papar Deden.

Untuk sistem penghenti laju, di sini Deden menciptakan keunikan lainnya. Selain mempertahankan aslinya dengan teromol, juga ditambah lagi sistem disc brake. Penempatannya di antara arm dan gir depan, bukannya di velg. Lalu, cara kerja tetap dengan satu handel dan master rem yang ditempatkan di bawah dek sehingga tertutup.

Coba perhatikan bodi motor. Bentuknya yang sudah ekstrem itu juga merupakan knock down dan masih menggunakan rangka asli tanpa ada yang dipotong. Begitu kata Deden. Kemudian, perhatikan juga velgnya. Hasil perpaduan velg mobil Toyota Avanza dengan jari palang milik Jupiter-Z yang disatukan dengan baut.
Luar biasa, hebat!


MIO LOW RIDER


Yamaha Mio produksi 2009 yang digarap Antonius ini bisa dibilang pelopor. Paling mencolok tampak pada tiga bagian motor yang dimodif aliran low rider ini. Satu di sisi depan dan duanya di belakang. Apa itu?

Tengok model setang bergaya chopper atau seperti gantungan monyet. Di atas masing-masing grip terdapat tabung minyak rem karena sistem penghenti laju yang depan dan belakang memakai disc brake.

Mari pindah ke belakang dan ini yang paling heboh. Antonius mengklaim bahwa dia adalah orang yang pertama kali memakaikan Mio-nya dengan velg selebar 10 inci. "Pokoknya biar jadi tahu kalau gue yang pertama pakai velg lebar," tegas Antonius.

Menariknya, rim yang dipakai masih dimodifikasi lagi, seperti bibir velg masih dari standar mobil, tetapi bagian tengah dibuat dengan pelat baru setebal 3 mm dan lebar 3 cm. Keduanya disatukan dengan las listrik dan jari-jari dibikin model banyak bergaya klasik.

Keunikan lainnya, tangki bensin pindah lokasi ke tempat baru di atas cover CVT. Perpindahan ini efek dari pemakaian ban superlebar. Termasuk juga lubang pengisian oli, bagian itu dibuat baru dan diletakakan di atas. "Kalau mau ganti oli, cukup buka jok dan lubang langsung kelihatan," bilang Ari Winata, pemilik motor.

Sudah itu aja? Belum, masih ada dua lagi. Perhatikan desain knalpot, dibikin melengkung mengikuti velg. Desain ini sekaligus berfungsi melindungi bibir velg walau separuh. Satu lagi, motor ini tanpa shockbreaker belakang. Berarti, suspensi menjadi rigid.





YAMAHA MIO RETRO CLASSIC



Modifikasi skubek tentu tidak bergeser dari aliran low rider. Ceper, sumbu roda melar puluhan sentimeter dan roda pakai velg mobil. Sementara itu, Muhammad Sidik justru keluar dari pakem. Yamaha Mio buatan 2007 miliknya justru diubah bentuknya jadi model klasik.

Perombakan bodi dilakukan dengan memakai bodi Fino. Padahal, trennya sendiri sudah muncul 2007. Namun, Sidik tidak peduli dengan teriakan orang. Toh, motor itu punya dia. Ia malah menambah variasi yang mendukung keklasikan motor.

Untuk menyulap bodi Mio diganti Fino, Sidik harus merogoh kocek sekitar Rp 6 juta. Saat pemasangan, kerangka Mio harus sedikit diubah. Lantaran bodi Fino memberi kesan klasik, berbagai barang berbau lawas pun menempel di bodi.

Tengok batang knalpot, diambil dari Honda CB100 yang ditemukan Sidik di Kebun Jeruk III. Begitu dipasang, tampilannya oke punya dan tidak memengaruhi performa mesin yang masih standar.

Karena klasik, pada bagian belakang dan depan dikasih rak. "Kalau yang depan murni desain sendiri. Pakai stainless steel 2 mm," bilang Sidik. Adapun rak belakang meniru variasi yang kerap dipakai komunitas Vespa. "Klasik dan cocok sama bodi baru yang rada gendut kayak bodi Vespa," lanjut pengantin baru itu.

Tampilan klasik lainnya tampak pada model nomor polisi. Bukannya melintang, melainkan sejajar dengan sepatbor. Kemudian, bagian depan dipasangi windshield. Uniknya, jika dulu ukurannya besar, di sini Sidik pakai ukuran kecil dan malah terlihat seperti visor. "Ingin tampil beda. Jadi dengan visor seakan klasik, tapi sporty," ungkapnya.Ukuran dan desain harus disesuaikan dengan bentuk bodi yang agak membulat itu.

Desain jok pun dibuat bergaya klasik "Harus gaya klasik juga, bikin lebar sebab, selain keren, nyaman di pantat," papar Sidik sambil tersenyum.

April 08, 2009

HISTORY OF RACE


The historical definition of race was an immutable and distinct type or species, sharing distinct racial characteristics such as constitution, temperament, and mental abilities. These races were not conceived as being related with each other, but formed a hierarchy of inherent value called the Great Chain of Being with Europeans usually at the top. As time progressed, Charles Darwin's theory of evolution was applied to races. By this time, anthropologists considered humans to be related to each other. The word "race," interpreted to mean common descent, was introduced into English in about 1580, from the Old French rasse (1512), from Italian razza, which may have been derived from the Arabic Word "ras" "رأس" meaning the head of someone or something. In this context, "ras" points to the root or the head of selected species. The etymology can be further traced back to Latin gens or Arabic "gens" "جنس" meaning (clan, stock, people) and genus (birth, descent, origin, race, stock, family) cognate with Greek genos (γένος) "race, kind," and gonos "birth, offspring, stock [...]."